Bliss

Udara yang dingin sesekali membuat gigiku bergemeletuk. Tanah yang basah mulai mengotori kuku-kuku kakiku. Goresan demi goresan ranting pohon yang melukai wajahku bukanlah masalah besar saat ini. Aku menoleh pada Red yang mempercepat larinya dan sekarang berada beberapa meter di depanku. Chooper yang berada disebelah kiriku bahkan tidak mempedulikan luka di telapak kakinya saat tak sengaja menginjak batu kecil di tanah. Aku tahu, tidak boleh ada yang memperlambat kami saat ini. Kami harus terus berlari secepat mungkin. Aku tak bisa mengaduh kesakitan hanya karena ranting pohon yang menggores pelipisku. Seperti apa yang sudah dad katakan, aku bukan anak kecil lagi, aku harus membuktikannya. Hanya ada enam orang dari kami saat ini. Aku mengenal mereka semua, mereka adalah sahabatku, saudara, keluarga, orang-orang yang sangat penting bagiku. Teman-temanku sejak kecil, merekalah yang selalu menemaniku sejak mom meninggal dan dad yang tidak peduli pada apapun lagi. Aku tidak bisa membiarkan salah satu dari mereka terluka. Jika kami tertangkap, bahkan jika hanya satu dari kami yang tertangkap itu akan membuat seluruh keluarga kami musnah cepat atau lambat. Mungkin musnah bukanlah kata yang tepat, tapi paling tidak itulah yang akan terjadi. Kami harus segera sampai di hutan dan bersembunyi sebelum matahari muncul. Sebelum kami tertangkap. Suara lolongan serigala di belakang membuat kami semakin panik dan ingin segera meloloskan diri. Dari tempatku saat ini aku dapat melihat deretan pohon cemara, itu berarti tidak lama lagi kami akan sampai di hutan.  Bau pohon cemara menyambut kami, tanpa sadar aku menyunggingkan senyum simpul pada wajahku. Kurasa kali ini mereka tidak akan bisa menangkap kami. Tidak saat kami sudah sampai di rumah. Mereka tidak akan menyerang kami di hutan ini, di wilayah kami. Aku dapat mendengar pekikan senang dari mulut Bruno, bahkan Red juga berteriak kegirangan saat baru masuk ke hutan ini walau hanya beberapa langkah saja. Kami aman. Kami memperlambat langkah kaki, senang karena tidak perlu berlari-lari lagi. Chooper memeluk Red sambil tertawa keras membuat kami kaget karena sikap mereka berdua yang masih saja seperti anak kecil. Aku merasakan tangan yang hangat dan lembap meraih telapak tanganku dan menggenggamya. Adam.

Lalu segalanya terjadi begitu cepat. Sebuah anak pada menusuk dada Viv. Viv yang saat itu sedang menertawakan lelucon blue hanya bisa terdiam dengan wajah ketakutan. Kami mematung untuk beberapa saat sampai akhirnya kami tersadar bahwa sebuah anak panah menembus dada Viv dan membuatnya jatuh tersungkur ke tanah yang dingin. Bruno dan Adam segera mengangkat tubuh Viv diantara badan-badan besar mereka. Suara erangan kesakitan Viv membuatku merinding. Segera kami mengambil posisi waspada. Mencari tanda-tanda keberadaan si pemanah. Nihil. Bagaimana mungkin mereka bisa memanah Viv yang berada di dalam hutan jika mereka berada di luar? Tidak mungkin mereka masuk ke dalam hutan. Ini adalah wilayah kami, tak seharusnya mereka melanggar peraturan tersebut. Satu anak panah kembali masuk ke dalam hutan dan menancap di tanah yang lembap. Tidak ada yang tahu darimana anak panah itu berasal. Kami berlima kembali panik. Tanpa sadar aku berteriak memberikan perintah pada yang lain untuk lari. Kami harus berlari lebih dalam ke dalam hutan, memberikan peringatan kepada yang lain. Hutan ini tidak lagi aman.

*******************************************************************

Aku membuka mataku perlahan, merasakan udara yang dingin memenuhi paru-paruku. Aku dapat merasakan daun-daun kering yang menempel di rambutku yang rusak. Tanganku meraba-raba sekitar, mencari jawaban atas keberadaanku. Rerumputan yang basah menggelitik jemariku. Membuatku segera terbangun dan menyadari bahwa matahari telah lama tenggelam digantikan dengan sinar rembulan keperakan. Aku berdiri dan membersihkan bajuku dari rumput-rumput yang menempel, dan menyisir rambut dengan jemariku dari daun-daun kering yang tersangkut. Dari luar aku dapat melihat bayangan mom yang sedang sibuk di dapur. Aku segera berjalan dengan lunglai ke pintu belakang dapur, tersenyum kepada mom dan segera membantunya menyiapkan makan malam.

Dad pulang 5 menit lebih terlambat hari ini, sedangkan Meghan, adikku, terus bercerita tentang hari pertamanya menjadi pemandu sorak di sekolah. Mom dan dad terlihat sangat senang mendengarnya. Yah, pemandu sorak. Begitu hebatnya kah menjadi pemandu sorak dibandingkan dengan diriku yang hanya mengikuti kelas tambahan fotografi di sekolah? Well, bukannya aku iri atau apa, memang sih pemandu sorak di sekolahku adalah salah satu tim pemandu sorak terbaik di kota dan menjadi pemandu sorak adalah mimpi dari kebanyakan gadis remaja biasanya, dan aku? Aku bukan gadis remaja biasanya. Lebih tepatnya bukan tentang menjadi pemandu sorak, tapi tentang kepopuleran yang akan kau dapatkan jika kau menjadi pemandu sorak. Meghan memang selalu menjadi sesosok adik yang ‘lebih’ dari diriku. Dia memiliki rambut pirang yang sangat indah seperti mom. Rambut mereka berdua tampak seperti rambut Barbie. Sedangkan aku? Yah, rambutku hitam. Sangat hitam. Seperti rambut dad saat muda dulu, sebelum rambut-rambut putih mulai muncul dikepalanya. Meghan punya cara berbicara yang menarik dan atraktif, tidak sepertiku yang lebih banyak diam dan pemalu. Selain itu dia juga punya selera berpakaian yang bagus, tidak sepertiku yang lebih menyukai sweater rajut dan celana jeans. Adikku memiliki koleksi sepatu satu rak dengan empat tingkat yang didominasi dengan heels sedangkan aku? Aku punya sepatu boots kusam hadiah dari nenek saat natal tahun lalu, aku punya sepasang sandal jepit yang sudah tidak layak pakai, dan sepatu converse hitam kesukaanku yang tidak kalah kumal. Aku tahu kami memang sangat berbeda, tapi bukan berarti kami tidak akur. Meghan adalah sahabat terbaikku, begitu juga sebaliknya. Aku selalu menemaninya sejak pertama kali dia dilahirkan di dunia ini. Aku selalu menemaninya sejak dulu, saat dia menangis karena kehilangan gigi susu pertamanya, saat dia harus pulang terlambat karena dihukum oleh gurunya di kelas, atau bahkan saat dia mengalami patah hati pertamanya di usianya yang baru empat belas tahun. Bisa kau bayangkan itu? EMPAT BELAS TAHUN. Sedangkan aku? Aku bahkan tidak pernah jatuh cinta. Well, memang cinta bukanlah hal yang mudah untuk ditaklukan. Kisah cinta paling indah yang pernah aku dengar bukanlah cerita dongeng Cinderella atau Sleeping Beauty, melainkan kisah cinta orang tuaku. Saat itu dad tinggal di kota kecil saat masih berusia 9 tahun, lalu suatu hari mom pindah di sebelah rumahnya yang sudah kosong selama bertahun-tahun dan mereka menjadi tetangga yang akur. Mereka berteman sejak saat itu hingga menjadi pasangan paling romantis saat prom dan mereka berkencan. Tidak seindah yang terdengar. Semua hubungan pasti memiliki masalahnya masing-masing kan? Mom memutuskan untuk berpisah dengan dad saat akan kuliah karena dia harus berkuliah di luar negeri. Mereka tidak pernah berhubungan melalui media apapun sejak saat itu. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu di sebuah café, berbincang sebentar untuk saling menanyakan kabar dan tidak lama kemudian mereka menjadi sepasang kekasih kembali dan memutuskan untuk menikah. Bukankah itu indah?

Hari ini giliranku untuk mencuci piring-piring kotor. Sesekali bunyi dahan pohon yang tertiup angin diluar membuatku merinding. Aku melihat sinar rembulan melalui jendela dan melupakan piring-piring kotor dihadapanku. Mimpi itu. Tadi bukanlah pertama kalinya aku bermimpi tentang hal itu. Sejak beberapa bulan yang lalu, setiap kali aku tertidur aku selalu memimpikan hal yang sama. Cerita yang sama, tempat yang sama, dan orang yang sama. Aku bahkan masih mengingat tanah basah tempat kakiku berlari diatasnya pada mimpiku. Aku tidak tahu apakah hal ini normal atau tidak, yang membuatku terganggu adalah aku selalu terbangun jam tiga pagi karena mimpi bodoh tersebut. Aku masih mengingat wajah-wajah asing didalam mimpiku, orang-orang yang tidak kukenali. Siapa mereka?

Siapa aku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s